Bagikan Berita ini :

(Sumber foto : )
JAKARTA, TeropongSenayan.com – Dinamika politik Indonesia dalam beberapa hari terakhir menunjukkan fenomena unik sekaligus mengkhawatirkan. Di tengah meningkatnya tekanan terhadap aktivis, cendekiawan, dan elemen masyarakat sipil, muncul sebuah arus balik yang tak terbendung: perlawanan melalui ruang digital yang kian terstruktur dan masif.
Fenomena ini bukan sekadar luapan emosi di media sosial, melainkan bentuk "Parlemen Digital" yang lahir dari kegelisahan publik atas melemahnya fungsi check and balances di lembaga formal.
Kegagalan Aspirasi dan Munculnya Perlawanan Kolektif
Diskusi hangat di berbagai platform media sosial menyoroti adanya kecenderungan pemerintah yang dinilai "sok pintar", kurang aspiratif, dan seolah ingin menang sendiri. Ketika parlemen formal dianggap terlalu kompromistis terhadap kekuasaan, masyarakat sipil mengambil alih peran pengawasan tersebut.
Pertemuan-pertemuan terbatas yang digelar oleh para aktivis dan intelektual kini tidak lagi berhenti di ruang tertutup. Hasil diskusi, data-data ketimpangan, hingga analisis kebijakan langsung diekspos secara transparan melalui media sosial. Inilah yang kemudian menjadi amunisi bagi publik untuk memahami realitas yang sebenarnya terjadi di balik narasi resmi pemerintah.
Cermin "Delusi Kekuasaan" Global
Fenomena dalam negeri ini sejalan dengan kritik global yang dilontarkan oleh pakar ekonomi politik, Profesor Jeffrey Sachs. Dalam analisisnya terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat baru-baru ini, Sachs memperingatkan bahaya "delusi hegemoni"—sebuah kondisi di mana penguasa merasa paling benar dan mengabaikan hukum serta realitas multipolar.
Di Indonesia, delusi serupa nampak ketika kritik masyarakat sipil dijawab dengan tekanan atau stigmatisasi. Padahal, kemajuan AI dan teknologi informasi telah membuat monopoli informasi oleh negara runtuh. Rakyat kini memiliki kemampuan untuk membedah kebijakan secara mandiri dan bertanggung jawab.
Parlemen Digital: Menuju Kedewasaan Politik
Gagasan mengenai "Parlemen Digital" menawarkan harapan baru. Berbeda dengan kegaduhan siber yang tak berarah, Parlemen Digital menuntut setiap individu dewasa untuk menyampaikan aspirasi secara terstruktur dan berbasis data.
Ada beberapa alasan mengapa model ini menjadi kunci masa depan Indonesia:
* Memerangi Kebodohan: Digitalisasi informasi mempercepat edukasi politik rakyat, sehingga mereka tidak lagi mudah dimanipulasi oleh janji-janji kosong.
* Akuntabilitas Radikal: Setiap tindakan pemerintah terekam dalam jejak digital yang abadi, memaksa para pengelola negara untuk lebih bertanggung jawab secara sosial.
* Kesejahteraan Rakyat: Dengan pengawasan digital yang ketat, kebocoran anggaran akibat korupsi dapat ditekan, sehingga modal sosial "gotong royong" yang kuat di Indonesia benar-benar terkonversi menjadi kesejahteraan nyata.
Masyarakat Sipil Tidak Akan Mundur
Tekanan yang dilakukan pemerintah terhadap para cendekiawan dan aktivis beberapa hari terakhir justru menjadi bensin bagi motor penggerak demokrasi digital. Upaya pembungkaman di dunia nyata hanya akan memindahkan pusat gravitasi perlawanan ke dunia maya, di mana kontrol pemerintah jauh lebih sulit dilakukan.
Indonesia yang maju adalah Indonesia yang menghargai kecerdasan rakyatnya. Parlemen Digital bukan musuh negara, melainkan mitra kritis yang dibutuhkan untuk memastikan bahwa Indonesia tetap berjalan di rel konstitusi dan kepentingan rakyat banyak.
Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.
Bagikan Berita ini :