Bisnis

Gegara Dituding Memainkan Harga Obat Generik, 26 Perusahaan Obat Diadili

Oleh Aries Kelana pada hari Kamis, 11 Jun 2020 - 15:42:24 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1591864944.jpg

(Sumber foto : istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Seperti di negara-negara umumnya, harga obat generik seharusnya lebih murah dari obat bermerk . Tetapi kejaksaan Agung di beberapa negara bagian Amerika Serikat menemukan bahwa ada 26 pabrik obat bermain harga obat generik. Karena dianggap melakukan pelanggaran, mereka diajukan ke pengadilan.

Dalam sidang itu, seperti dikutip reuters.com (11/6/2020), Novartis, Sandoz, unit Actavis milik Teva Pharmaceuticals, Mylan, Pfizer Inc, dan pembuat obat bius lainnya, masuk dalam daftar yang digugat. Aksi mereka mengeruk pasar obat disangka dilakukan pada 2009-2016 untuk lebih dari 80 obat.

Jaksa Agung dari 46 negara bagian, Distrik Columbia dan empat teritori AS mengatakan para terdakwa mementingkan keuntungan di atas kepentingan publik, sehingga merampas jutaan konsumen yang mengharapkan harga yang lebih rendah untuk pengobatan yang dibutuhkan.

Sepuluh eksekutif, termasuk banyak direktur penjualan dan pemasaran, juga merupakan terdakwa dalam pengaduan setebal 543 halaman yang diajukan di pengadilan federal di Connecticut.

Nama-nama merek dari beberapa obat yang dipermasalahkan termasuk obat glaukoma Xalatan, obat jerawat Differin, obat anti-kejang Dilantin, obat anti-jamur Lotrimin AF Cream, dan Ritalin untuk ADHD.

"Melalui panggilan telepon, pesan teks, email, konvensi perusahaan, dan pesta makan malam yang nyaman, eksekutif farmasi generik selalu berkomunikasi, berkolusi untuk memperbaiki harga dan mengurangi persaingan," kata Jaksa Agung Connecticut William Tong.

Menghadapi gugatan itu, seperti dilansir reuters.com (10/6/2020), Juru bicara Novartis Eric Althoff mengatakan pelanggaran terkait dengan penyelesaian US$ 195 juta yang dituduhkan Departemen Kehakiman AS pada bulan Maret 2020, "tidak mendukung konspirasi luas, sistemik yang dituduhkan oleh negara-negara."

Sementara itu, Juru bicara Pfizer, Sally Beatty, mengatakan tidak percaya bahwa ia dianggap terlibat dalam perilaku yang melanggar hukum.

Kemudian Juru bicara Mylan Lauren Kashtan mengatakan perusahaannya tidak menemukan bukti penetapan harga. Sedangkan Teva tidak segera menanggapi permintaan komentar.

tag: #amerika-serikat   #obat  

Bagikan Berita ini :

Kemendagri RI
advertisement